Just the ideas and opinion about Social, Economy, and Politic

PERPUSTAKAAN: SURGA DUNIA BAGI PARA MAHASISWA

“I choose to be a poor man who live in a small house that full of books rather than become a king who doesn’t have desire to read.”
(Thomas Babington – English Historian)

Menengok Peringkat Kita
Satu lagi kabar gembira menyapa kita semua, civitas akademika Universitas Gadjah Mada (UGM), juga semua pihak yang peduli akan pendidikan bangsa. UGM tahun 2008 ini kembali masuk ke dalam jajaran 500 universitas terbaik di dunia, bersama dengan Universitas Indonesia (UI) dan Institut Teknologi Bandung (ITB) yang notabene adalah universitas-universitas unggulan dan favorit di Indonesia. Apakah makna dari peringkat tersebut? Kiranya kita sebagai bagian dari entitas UGM sudah semestinya bercermin kembali dan tidak terlena akan peringkat yang telah diraih. Banyak jalan yang masih harus kita tempuh untuk menjadi universitas internasional yang unggul dalam kualitas dan turut serta dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) melalui berbagai penelitian, atau kini lebih populer dengan istilah research university.
Sering terpikir apakah yang sebenarnya menjadi parameter bagi sebuah institusi pendidikan yang baik, dalam hal ini universitas. Cukupkah hanya sebatas gedung yang megah dan ruang kelas yang mewah? Tentu saja penyediaan fasilitas pendidikan tak hanya terkait dan selesai sampai pada penyampaian materi kuliah di kelas yang nyaman dengan Air Conditioner (AC), komputer, dan viewer semata.
Adalah perpustakaan, sebuah tempat yang seharusnya menjadi pelarian bagi para mahasiswa yang haus akan ilmu dan ingin menggali lebih banyak pengetahuan. Perpustakaan ialah suatu tempat yang seharusnya dapat memuaskan kebutuhan para mahasiswa, baik dalam hal pengetahuan, informasi, serta kenyamanan dalam proses yang mendukung prestasi akademik dan menumbuhkan budaya literer yang akan memacu mahasiswa memiliki pemikiran yang lebih terbuka, kritis, dan inovatif.
Banyak jalan menuju Roma, begitu pula banyaknya jalan bagi UGM untuk menuju research university bertaraf internasional. Dan perpustakaan yang baik merupakan salah satu fasilitas yang dapat mengantarkan UGM menuju kesana.

Tenggelamnya Popularitas Perpustakaan
Di Indonesia, kebanyakan perpustakaan kalah pamor oleh gemerlapnya mal dan pusat hiburan. Mal umumnya buka sejak pukul sepuluh pagi hingga sepuluh malam, sedangkan kebanyakan perpustakaan telah tutup di sore hari, atau ada pula yang sedikit lebih malam, itupun dengan kondisi yang sudah agak sepi pengunjung. Mal dan pusat hiburan tetap buka dan justru paling ramai dikunjungi di akhir pekan, sebaliknya perpustakaan tutup pada waktu tersebut.
Perpustakaan seolah menjadi semacam tempat “sakral” yang hanya dikunjungi oleh orang-orang yang terlampau rajin dan kutu buku. Meskipun di beberapa perpustakaan fakultas terlihat pengunjung yang cukup ramai, namun di kebanyakan perpustakaan fakultas lain dan perpustakaan pusat terasa kurang “hidup”. Dalam hal ini, sering pula terlihat ada dua kubu yang terpisah, antara mahasiswa yang “gila organisasi” dan mahasiswa yang “demam perpustakaan”, padahal sebenarnya keduanya bisa berjalan beriringan.
Fenomena demikian bukan sepenuhnya salah mahasiswa, bukan karena mahasiswa tak suka belajar dan tak gemar membaca. Buktinya, banyak pula mahasiswa yang sengaja mencari tempat nyaman untuk belajar, membaca, atau sekedar mencari bahan tugas lewat internet, namun pilihannya justru jatuh ke kafe-kafe, bukan perpustakaan. Dalam hal ini, bagaimana perpustakaan sebagai sebuah produk dikemas menjadi sesuatu yang menarik merupakan suatu permasalahan tersendiri yang selayaknya diperhatikan. Selanjutnya, pemasaran yang baik juga penting, karena produk yang baik akan menjadi sia-sia tanpa teknik pemasaran yang tepat.
Mempopulerkan perpustakaan di kalangan mahasiswa tentunya tak berarti kita mengubah perpustakaan menjadi seperti kafe. Perpustakaan tetaplah perpustakaan, namun dengan suasana dan fasilitas yang nyaman dan memuaskan kebutuhan mahasiswa. Setahun yang lalu, penulis berkesempatan mengikuti program pertukaran pelajar di Daejeon University, Korea Selatan. Di sanalah untuk pertama kalinya impian penulis tentang perpustakaan ideal cukup terwujudkan.
“Sophisticated but homy”, begitu kesan pertama penulis ketika pertama kali melihat perpustakaan universitas tersebut. Perpustakaan yang menjulang megah di tengah kampus itu memiliki fasilitas yang bisa dibilang lengkap, dari mulai materi-materi serius sampai dengan yang bisa dibilang santai dan menghibur. Dari mulai tempat yang nyaman untuk belajar dengan serius sendiri-sendiri sampai ruang diskusi yang memungkinkan suasana yang sedikit gaduh. Suatu keseimbangan yang membuat para mahasiswa kerasan berlama-lama di dalam perpustakaan. Di sana, perpustakaan selalu hidup, tak ada istilah popularitas yang tenggelam.

 

Revitalisasi Perpustakaan
Salah seorang sastrawan Indonesia, Pramoedya Ananta Toer, pernah berkata, “Segala yang terjadi di bawah kolong langit adalah urusan orang-orang yang berpikir”. Fenomena tenggelamnya perpustakaan di tengah dinamika dunia pendidikan, mau tidak mau harus dicari benang merahnya untuk kemudian dapat dirumuskan berbagai permasalahan yang ada, juga langkah-langkah untuk menanggulanginya. Dalam kasus perpustakaan ini, pusat permasalahan terdapat pada dua faktor, yaitu faktor mahasiswa dan juga faktor perpustakaan itu sendiri.
UGM sebagai salah satu universitas di Indonesia, yang telah beberapa tahun terakhir ini selalu masuk dalam jajaran 500 universitas terbaik versi majalah Time, sudah semestinya mencanangkan revitalisasi perpustakaan. Revitalisasi berarti menumbuhkan kembali arti pentingnya perpustakaan bagi seluruh civitas akademika UGM, khususnya mahasiswa sebagai pihak yang akan paling banyak menggunakan sarana tersebut. Perpustakaan semestinya lebih dari tempat untuk membaca dan meminjam buku. Di sini, kita harus merumuskan kembali fungsi perpustakaan sebagai sarana edukatif bagi mahasiswa.
Karena masalah jarak dan kemudahan akses, kebanyakan mahasiswa lebih memanfaatkan perpustakaan fakultas. Hal itu memang tidak salah. Namun, jika kemudian Perpustakaan Pusat menjadi semakin terlupakan, pihak universitas harus segara turun tangan. Apabila dioptimalkan, Perpustakaan Pusat UGM selain menjadi gudang buku dan tempat membaca, juga bisa menjadi pusat transfer pengetahuan dan brainstorming bagi para mahasiswa yang sifatnya lintas keilmuan, karena melibatkan mahasiswa dari berbagai fakultas dan jurusan.
Tanpa mengurangi apresiasi terhadap perpustakaan yang ada saat ini, tak bisa dielakkan bahwa memang terdapat banyak aspek yang harus diperbarui dari perpustakaan. Meskipun ada istilah yang menyatakan, “Don’t judge from the cover”, namun dalam banyak hal ternyata membuat “cover” yang menarik itu memang sangatlah penting, termasuk dalam mengemas perpustakaan. Misalnya saja, gedung yang terlihat tua dan suram cenderung menyebabkan daya tarik yang lebih rendah sehingga mahasiswa enggan ke sana. Maka, akan lebih baik apabila gedung perpustakaan dibuat dengan desain dan warna yang menarik, atau kalaupun bermaksud melestarikan gedung yang cukup tua dan bersejarah, tetap dibalut dengan warna yang terang ataupun ornamen lain yang sifatnya jauh dari monoton.
Setelah “cover” yang menarik, tentunya ada yang lebih esensial. Ya, betul sekali. Apa lagi kalau bukan isi perpustakaan? Perpustakaan sebagai sumber ilmu selayaknya memiliki koleksi buku yang lebih beragam. Tak hanya buku teks kuliah, namun juga buku-buku umum dan populer sehingga mahasiswa tak hanya berpikir linear. Untuk penyediaan majalah dan jurnal-jurnal ilmiah yang spesifik pada suatu bidang keilmuan, memang sebaiknya dilakukan di perpustakaan fakultas saja yang relatif lebih mudah dijangkau dan diakses. Sedangkan untuk perpustakaan pusat, hendaknya memiliki referensi yang sifatnya lebih umum.
Saat ini, dengan dua unit perpustakaan pusat yang ada, sebenarnya cukup banyak yang telah dapat diberikan kepada mahasiswa. Akses internet dan sarana informasi telah cukup tersedia. Telah ada pula beberapa corner atas dukungan instansi atau lembaga tenrtentu yang memang khusus berisi buku atau materi yang spesifik pada suatu bidang keilmuan. Namun, suasana perpustakaan masih terasa formal, tak bervariasi, dan terkesan membosankan. Meskipun perpustakaan tak dapat memberikan suasana yang terlampau santai dan sesuai dengan selera masing-masing individu, namun alangkah baiknya apabila dibuat diversifikasi ruangan yang kira-kira dapat memenuhi kebutuhan mahasiswa.
Pertama, seperti ruangan standar di setiap perpustakaan (dan yang telah ada pula saat ini), yaitu ruang referensi buku yang sekaligus juga ruang baca. Di ruangan tersebut terdapat berbagai buku yang tersusun rapi di rak dan juga meja-kursi untuk membaca yang sifatnya terbuka, dimana pembaca bisa saling berhadapan satu sama lain. Namun, selain itu ada pula mahasiswa yang membutuhkan ketenangan lebih untuk berkonsentrasi saat membaca maupun belajar. Untuk itu, ruangan kedua yang harus ada adalah ruang khusus belajar, dimana di dalamya terdapat hanya meja-kursi yang satu sama lain dipisahkan cubicle. Dengan demikian, mahasiswa tidak akan mudah merasa terganggu dan akan didapatkan suasana yang memang kondusif untuk melakukan kegiatan yang membutuhkan kosentrasi tinggi.
Selain ruang-ruang yang berkaitan dengan membaca, perpustakaan juga idealnya memfasilitasi mahasiswa yang ingin belajar berkelompok sambil berdiskusi di perpustakaan. Jika kegiatan tersebut dilakukan di ruang baca maupun ruang belajar, tentunya akan mengganggu pengguna perpustakaan lain. Maka penyediaan beberapa unit ruang diskusi dapat membantu mahasiswa keluar dari masalah tersebut. Apalagi saat ini UGM telah menerapkan sistem Student Center Learning (SCL) yang banyak mengharuskan mahasiswa belajar mandiri dan mempersiapkan berbagai presentasi yang kebanyakan ditugaskan berkelompok. Ruang diskusi akan mendukung keaktifan dan kekritisan mahasiswa dalam kegiatan akademiknya.
Sebagai penyeimbang dari berbagai aktivitas yang serius di perpustakaan, perpustakaan dapat menyediakan satu ruangan khusus yang menyediakan televisi dengan berbagai saluran internasional. Fasilitas ini tak sekedar ajang rileks semata, karena siaran-siaran internasional yang disajikan dapat memperkaya khasanah pengetahuan sekaligus melatih kemampuan bahasa asing para mahasiswa, khususnya Bahasa Inggris. Perancangan ruangan dapat dibuat sederhana saja, misalnya dengan gaya lesehan. Hal itu akan menambah suasana nyaman dan santai.
Sebagai pusat transfer pengetahuan dan brainstorming yang sifatnya lintas keilmuan, akan sangat baik apabila pihak perpustakaan secara berkala mengadakan diskusi atau “ngobrol santai”. Kemudian dapat juga dibentuk sebuah klub entah itu bernama “Klub Cinta Buku”, “Klub Cinta Perpustakaan”, dan lain-lain, yang kegiatannya antara lain membedah buku-buku baru di perpustakaan ataupun membahas isu-isu yang sedang hangat. Hal tersebut nantinya akan secara tidak langsung “menjaga” konsistensi kehadiran mahasiswa dalam setiap diskusi yang dilaksanakan sekaligus menjadi salah satu cara untuk meningkatkan daya tarik mahasiswa agar mau mengunjungi perpustakaan.
Jam buka-tutup perpustakaan juga sebaiknya menjadi perhatian. Pada hari kerja, seharusnya perpustakaan buka hingga lebih malam, misalnya pukul sembilan. Sedangkan di akhir pekan, perpustakaan dapat tetap buka walaupun dengan fasilitas yang terbatas, khususnya penyediaan ruang belajar bagi mereka yang membutuhkan tempat yang nyaman untuk berkonsentrasi.
Produk yang baik akan sia-sia tanpa pemasaran yang tepat. Begitulah perpustakaan juga harus “dipasarkan” dengan cara yang tepat kepada para mahasiswa. Adanya website dapat mendukung promosi mengenai berbagai pembaruan yang ada di perpustakaan. Namun bagaimana bisa apabila banyak mahasiswa yang bahkan tak tahu-menahu akan adanya website tersebut? Di sinilah diperlukan sarana-sarana publikasi lain.
Jika suatu saat UGM memang benar-benar melakukan revitalisasi perpustakaan, maka pihak perpustakaan mau tak mau harus dapat menginformasikan hal tersebut kepada seluruh entitas UGM, misalnya dengan mengadakan talk show dan peresmian dalam skala besar yang sekaligus menginformasikan bebagai hal baru yang disediakan di perpustakaan.. Selanjutnya, publikasi mengenai berbagai fasilitas dan kegiatan di perpustakaan dapat juga dilakukan melalui radio kampus serta poster-poster yang disebar ke seluruh fakultas di UGM.
Revitalisasi perpustakaan diharapkan dapat menciptakan atmosfer baru di lingkungan kampus UGM. Gairah membaca, diskusi, dan mengkaji berbagai bidang keilmuan akan turut meningkat. Perpustakaan tak lagi menjadi tempat yang membosankan, melainkan surga dunia bagi para mahasiswa.

 

Investasi yang Tidak Murah
Meminjam kata-kata dari CEO Apple, “money is not everything for innovation, but innovation without money is impossible”. Melakukan suatu inovasi hanyalah mimpi jika tak ada dana, juga dalam mewujudkan perpustakaan ideal di lingkungan kampus UGM. Perlu adanya niat dan keseriusan dari pihak universitas untuk mendukung revitalisasi perpustakaan.
Untuk tahun 2009, kabarnya pemerintah telah mengalokasikan anggaran 20% untuk bidang pendidikan. Ini merupakan sebuah angin segar. Namun di luar itu, UGM memang sudah sebaiknya mengalokasikan dana untuk mendukung keberlangsungan perpustakaan dan pemanfaatannya yang optimal, khususnya bagi mahasiswa. Biaya kuliah yang semakin meningkat dari tahun ke tahun juga tentunya menimbulkan suatu tuntutan tersendiri dari para mahasiswa. UGM yang kini dipandang sebagai salah satu universitas negeri yang elit dan mahal sudah selayaknya memberikan fasilitas yang unggul dan memadai. Tak ada pencapaian tanpa pejuangan dan pengorbanan, pun untuk menuju research university bertaraf internasional.

Februari 22, 2009 - Posted by | Uncategorized

2 Komentar »

  1. Assalamualaikum wr wb
    Saya punya ide bagus nih dan mudah-mudahan dengan dibantu oleh teman-teman anda dapat diterapkan di kampus anda
    Jika anda punya banyak buku pengetahuan, artikel, jurnal, ataupun media lainnya bagaimana kalau anda berkeliling naik sepeda (hitung-hitung olahraga) dengan buku2 pengetahuan dan dihiasi pernak-pernik promosi lainnya di sekitar kampus layaknya tukang koran lalu ajak teman-teman anda untuk beramai-ramai membaca buku yang anda bawa. Setelah selesai anda berkeliling lagi untuk mencari pembaca lainnya.Cari waktu yang kosong agar tidak mengganggu kuliah.
    Saya terinspirasi dari sebuah acara dokumentasi di televisi dimana ada seseorang yang bisa dikatakan berada di kelas menengah ke bawah menjajakan buku2nya dengan sepeda seperti perpustakaan berjalan keliling jakarta dan dibayar seikhlasnya oleh pembaca dari anak-anak sampai orang dewasa.Bayangkan demi ilmu dan kemajuan bangsa ia rela mengayuh sepeda berkilo-kilo dengan bayaran yang kurang sepadan.
    Inilah yang membuat kita harus menghargai ilmu dan buku karena masih ada orang yang mampu berbuat lebih untuk itu dan sebagai inspirator kita dalam memajukan bangsa dan negara.
    Bagaimana mau coba ga?Jangan malu2(w sendiri belum tentu berani,he…he…he…bercanda deh)
    Mulai dari internal kampus dulu siapa tahu aja nanti punya bisnis perpustakaan berjalan di seluruh indonesia,bisa jadi duit n mencerdaskan kehidupan bangsa kan!Cie..cie pidato melulu nih,
    Ok deh saya tunggu kabarnya ya n jangan lupa kunjungi blog saya dan isi commentnya ya!(yogahariawan@yahoo.com/lazialleguy.blogspot.com)!Trims
    Wassalamu’alaikum wr wb

    Komentar oleh Yoga Hariawan | Maret 2, 2009 | Balas

  2. wa’alaikumsalam wr.wb.
    makasih atas idenya… ya sih sering juga ntn atau baca artikel ttg teman2 lain yg concern dalam meningkatkan minat baca dan memberi akses buku2 kepada anak2 dan golongan masyarakat lainnya. tp memang harus ada niat dan komitmen. mungkin sekarang lbh mudahnya gabung aja sama komunitas2 perpustakaan yg udah ada. ^^

    Komentar oleh Maisya Farhati | Maret 3, 2009 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: