Just the ideas and opinion about Social, Economy, and Politic

MENGUNGKAP PAHLAWAN YANG HILANG

oleh Maisya Farhati*

Sejarah bercerita banyak hal dan memberi banyak pelajaran. Namun terkadang sejarah dapat pula tenggelam dan memang disembunyikan oleh mereka yang berkepentingan. Dan kita diam saja, tak pernah tahu dan mungkin tak tertarik untuk tahu. Di sana, ya di sana…di setiap zaman ada pahlawan-pahlawan yang mungkin tak kita kenal.

Kita sedang dalam suasana memperingati Hari Pahlawan. Tentu sudah sering kita mendengar ungkapan “bangsa yang besar ialah bangsa yang menghargai sejarahnya”. Namun sayangnya, selain pelajaran eksak seperti Matematika, pelajaran Sejarah justru menjadi momok tersendiri bagi pelajar umumnya. Apa gerangan yang menyebabkannya? Tak lain karena pelajaran tersebut sifatnya hafalan, baik nama, waktu, tempat, maupun peristiwa sehingga terasa melelahkan dan membosankan. Sejarah sudah selayaknya mengalir dan bercerita, namun justru itulah yang sering tak ditemukan dalam pengajaran di sekolah-sekolah. Sejarah sudah selayaknya mengalir dan bercerita sehingga tak ada alasan bagi para pelajar untuk tak menyukai pelajaran Sejarah, serta akhirnya memahami dan menghargainya. Sejarah menjadi hal yang kaku dan membosankan karena ada esensi yang terkadang terlupakan, yaitu makna dan pesan di balik sejarah itu sendiri.

Permasalahan di atas kemudian cukup terbantu oleh karya sastra. Sastra yang bergaya naratif mampu menyajikan kisah-kisah bersejarah dengan lebih hidup. Namun di sisi lain, banyak pula orang yang kemudian mempertanyakan kebenaran atau keakuratan kisah dalam karya sastra tersebut, apakah memang nyata ataukah hanya imajinasi pengarangnya saja. Selain itu, masalah yang juga muncul ialah ketika pengarang bermaksud mengangkat suatu fase sejarah ke dalam karya sastra, maka di sini kemampuan berceritanya sangat diuji karena karya sastra bukanlah buku sejarah, sehingga ia harus benar-benar mampu membuat karyanya “hidup” dan terlebih lagi menggungah.

Pramoedya Ananta Toer (Alm), dalam karya terkemukanya “Tetralogi Buru” nampaknya berhasil melepaskan diri dari masalah tersebut. Dengan berbekal berbagai dokumen sejarah, penulis yang akrab disapa Pram ini dengan piawainya memadukan keindahan dan keluwesan sastra dengan keakuratan sejarah. Terlepas dari kontroversi mengenai pribadi Pram, semangat yang ia kobarkan melalui keempat episode tetralogi tersebut mampu menyajikan sejarah tak sekedar fakta-fakta nama, waktu, tempat, dan kejadian. Pesan yang disampaikannya utuh, sekaligus menggambarkan kecintaannya terhadap bangsa Indonesia dan pemberontakan dirinya terhadap kolonialisme.

Tetralogi Buru terdiri dari empat buku berturut-turut “Bumi Manusia”, “Anak Semua Bangsa”, “Jejak Langkah, dan “Rumah Kaca”. Nama “Buru” mengacu pada Pulau Buru, karena Pram menulis buku ini saat ia dipenjara di pulau tersebut. Novel ini berlatar Hindia (sebutan untuk Indonesia saat masih di bawah kolonial Belanda) di akhir 1800-an dan awal 1900-an. Begitu terasa perubahan dan berbagai perkembangan dunia menuju apa yang saat itu disebut “modern”, yang ditandai dengan munculnya penemuan kereta angin (sepeda), mesin-mesin, mobil, dan lain-lain. Kata “modern” ternyata tak terbatas pada perkembangan fisik semata, tetapi juga pada pemikiran dan arus informasi. Adalah Minke, tokoh utama dalam novel ini, yang mewakili sosok anak negeri yang turut dalam kancah modernisasi itu. Lewat buku-buku yang ia baca, dialog serta berbagai kejadian yang ia alami, ia tumbuh dengan pemikirannya yang semakin maju dan menolak penindasan.

Perkembangan pemikiran dan pribadi Minke terjadi secara bertahap seperti digambarkan dalam setiap episode dari tetralogi ini. Semakin lama semakin matang, dan puncaknya pada saat ia berani menerbitkan surat kabar yang esensinya memberi pengetahuan dan advokasi bagi para pribumi. Diceritakan dalam buku ketiga, Minke menerbitkan surat kabar Medan Prijaji pada 1907. Penerbitan surat kabar ini membawa angin segar sebagai awal mula transfer informasi dan semangat nasionalisme. Minke juga kemudian mendirikan organisasi “Sarekat Priyayi” pada 1906. Tahun berikutnya, ia mendirikan sebuah organisasi yang tak asing bagi kita, yaitu Sarikat dagang Islam (SDI), organisasi pribumi pertama di Indonesia, yang kelak menjadi cikal bakal Syarikat Islam setelah dipimpin oleh Mas Tjokro (H.O.S. Tjokroaminoto).

Cerita dalam buku ini banyak melibatkan tokoh-tokoh sejarah yang sudah familiar bagi kita, seperti H.O.S. Tjokroaminoto, Tiga Serangkai (dalam buku ini diberi nama Douwager, Wardi, dan Tjiptomangun), Gadis Jepara (R.A. Kartini), Dewi Sartika, serta pejabat-pejabat Belanda pada masanya, di antaranya Gubernur Jenderal Van Heutz dan Idenburg. Hal ini wajar adanya mengingat latar novel ini mencakup masa awal 1900-an, awal lahirnya semangat kepemudaan dan semangat persatuan. Namun mengapa tokoh utamanya justru bernama Minke yang tak familiar dalam pelajaran Sejarah yang kita dapat di sekolah?

Dalam buku ini pun sebenarnya diceritakan bahwa Minke hanyalah sebuah nama panggilan. Ia adalah seorang keturunan Ningrat dan pembesar Jawa, namun tak menyukai gelar dan stratifikasi sosial itu. Karena kedudukan keluarganya, ia mendapat kesempatan mendapat pengajaran Belanda. Ia merupakan murid yang cerdas sehingga setelah lulus sekolah menengah, ia melanjutkan pendidikannya ke STOVIA, namun tidak selesai karena berbagai hal, salah satunya karena dari awal ia memang tidak mau menjadi hamba Gubermen Belanda, sedangkan semua lulusan STOVIA kelak akan bekerja sebagai dokter di bawah pemerintahan Belanda. Minke lebih tertarik terjun ke dunia jurnalistik dan akhirnya politik, dunia yang kemudian melambungkan namanya dan memperluas perannya dalam mendukung kepentingan pribumi. Namun kisah perjuangan selalu menuntut pengorbanan. Pembuangan dan pengasingan pun pernah dialami oleh Minke.

Hal yang menarik, tokoh dan peristiwa dalam Tetralogi Buru ini adalah nyata adanya. Minke memiliki nama asli Raden Mas Djokomono Tirto Adhi Soerjo atau disingkat TAS. Ia lahir di Blora tahun 1880. Sebagaimana diceritakan dalam Tetralogi Buru, karena keaktifannya dalam jurnalistik dan politik diangap membahayakan Gubermen Belanda, ia memang pernah diasingkan ke Ambon. Sekembali dari Ambon, TAS tinggal di Hotel Medan Prijaji (ketika ia sedang di Ambon namanya diubah menjadi Hotel Samirono). Antara tahun 1914-1918, TAS sakit-sakitan dan akhirnya meninggal dunia pada tanggal 7 Desember 1918. Mula-mula ia dimakamkan di Mangga Dua Jakarta kemudian dipindahkan ke Bogor pada tahun 1973. Di nisannya tertulis, Perintis Kemerdekaan; Perintis Pers Indonesia.

Entah pihak mana yang membuat skenario besar agar TAS tenggelam begitu saja dalam hiruk-pikuk zaman. Selama bertahun-tahun ia dilupakan dan tak dikenal. Barulah pada 1973 ia dinyatakan sebagai Perintis Pers Indonesia oleh Dewan Pers RI. Sedangkan untuk gelar kepahlawanan, baru didapatkannya pada masa pemerintahan SBY-Kalla, meski mungkin semasa hidupnya TAS sendiri mendedikasikan perjuangannya semata-mata untuk kepentingan bangsa tanpa mengharapkan gelar. Gelar Pahlawan Nasional diperolehnya pada 3 November 2006 melalui Keppres RI no 85/TK/2006.

Begitulah, Tetralogi Buru merupakan empat episode karya sastra yang menyempurnakan sebuah fragmen penting dalam sejarah Indonesia yang seringkali dilupakan orang, tak gamblang dan mendalam dituliskan dalam buku-buku teks pelajaran Sejarah, tidak pula dalam karya sastra lainnya. Juga melalui keempat buku ini kita diperkenalkan kepada tokoh pahlawan yang hilang dan terlupakan seperti Minke. Melalui penelusuran dokumen-dokumen sejarah, Pram telah berhasil menyulap kisahnya menjadi sebuah karya sastra yang begitu fenomenal. Membangun imajinasi di satu sisi, namun mempertahankan nilai-nilai sejarah di sisi lain. Dan yang penting, gambaran perjuangan para pahlawan di masa lalu hendaknya menjadi cambuk bagi seluruh elemen bangsa ini untuk senantiasa menghargai jasa-jasa mereka dan mengisi kemerdekaan dengan karya-karya yang membangun.

Selamat Hari Pahlawan. Terima kasih pahlawan-pahlawan Indonesia. Terima kasih untuk pahlawan yang dikenal, juga para pahlawan yang masih belum terungkap.

*Mahasiswa Ilmu Ekonomi 2005, Kabiro Media JMME-SEF, Staf Redaksi Equilibrium FEB IGM

November 16, 2008 - Posted by | Uncategorized

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: