Just the ideas and opinion about Social, Economy, and Politic

OBLIGASI SYARIAH DI TENGAH PEREKONOMIAN INDONESIA

Oleh Maisya Farhati*

Angin segar perekonomian di Indonesia lebih terasa ketika peluncuran pasar modal syariah pada Maret lima tahun lalu. Pasar modal syariah ini diharapkan dapat mendorong pertumbuhan institusi-institusi (lembaga keuangan) syariah dan instrumen-instrumen syariah. Salah satu instrumen syariah yang hingga kini banyak diminati adalah obligasi syariah (sukuk).
Saat ini di dunia internasional—bukan hanya di Timur Tengah—sukuk sedang naik daun. Tengok saja apa yang terjadi di Dubai. Obligasi syariah senilai US$ 3,5 miliar yang diterbitkan untuk proyek pengembangan tahap kedua Bandara Dubai diburu oleh banyak investor, baik lokal maupun asing.
Perbedaan mendasar antara sukuk dengan obligasi konvensional tentunya terlihat dari ada tidaknya bunga yang dalam konsep ekonomi islam telah disepakati termasuk riba. Merujuk kepada Fatwa Dewan Syari’ah Nasional No: 32/DSN-MUI/IX/2002, “Obligasi Syariah adalah suatu surat berharga jangka panjang berdasarkan prinsip syariah yang dikeluarkan Emiten kepada pemegang Obligasi Syari’ah yang mewajibkan Emiten untuk membayar pendapatan kepada pemegang Obligasi Syari’ah berupa bagi hasil/margin/fee, serta membayar kembali dana obligasi pada saat jatuh tempo”. Selain itu, klaim yang ada pada sukuk tidak sekedar klaim terhadap aliran kas (sebagaimana pada obligasi konvensional — pen), namun merupakan klaim kepemilikan (Manaf: 2007).
Dari sisi pasar modal, penerbitan sukuk muncul sehubungan dengan berkembangnya institusi-institusi keuangan syariah, seperti asuransi syariah, dana pensiun syariah, dan reksa dana syariah yang membutuhkan alternatif penempatan investasi. Produk syariah dapat dinikmati dan digunakan siapa pun, sesuai falsafah syariah yang sudah seharusnya memberi manfaat (maslahat) kepada seluruh semesta alam. Di sinilah hal yang menarik, karena ternyata yang menjadi, investor obligasi syariah tidak hanya berasal dari institusi-institusi syariah saja, tetapi juga investor konvensional. Investor konvensional akan tetap bisa berpartisipasi dalam obligasi syariah, jika dipertimbangkan bisa memberi keuntungan kompetitif, sesuai profil risikonya, dan juga likuid.
Tak berhenti sampai di tingkat korporasi, sukuk juga dilirik pemerintah untuk menjadi salah satu instrumen pengimpun dana dari masyarakat. Undang-undang mengenai Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) telah disahkan bulan ini dan rencananya mulai dikeluarkan Oktober nanti. Pada dasaranya, draft UU SBSN hampir sama dengan UU SUrat Utang Negara (SUN), hanya saja ada tambahan beberapa pasal mengenai akad, antara lain akad ijarah, mudarabah, musyarakah, istisna’, dan akad serta kombinasi dari dua atau lebih akad (www.majalahtrust.com).
Dirjen Pengelolaan Utang Departemen Keuangan (Depkeu), Rahmat Waluyanto, menyatakan cukup banyak investor luar negeri yang menanti penerbitan sukuk global pemerintah. Alasannya, sukuk pemerintah dinilai menjadi instrumen investasi dengan return kompetitif tapi hanya memiliki risiko investasi rendah (Republika: Selasa, 18 Maret 2008). Apalagi kabarnya pemerintah akan menerbitkan dua macam sukuk, yaitu sukuk dengan mata dolar AS (sukuk global) dan bermata uang rupiah (sukuk lokal).
Adanya sukuk negara ini diharapkan tak sekedar menjadi euforia sektor keuangan. Pada prakteknya, sukuk negara dapat membantu pembiayaan sektor publik seperti infrasktukur misalnya. Sukuk negara juga dapat membantu bank umum, khususnya bank syariah, memanfaatkan likuiditasnya karena saat ini bank umum tengah kebanjiran likuiditas.

*Kepala Biro Media Sharia Economics Forum (SEF)

Tulisan terkait:
“Mengenal Obligasi Syariah” http://64.203.71.11/kompas-cetak/0306/04/finansial/347914.htm
“Sukuk” http://en.wikipedia.org/wiki/Sukuk
“What Is Sukuk?” http://islamicbanking.worldmuslimmedia.com/what-is-sukuk/

April 18, 2008 - Posted by | Uncategorized

2 Komentar »

  1. Assalamualaikum wr wb

    Saya sangat kagum dengan isi blog anda karena kita tahu bahwa tidak mungkin menerapkan bahkan merevolusi secara langsung sistem ekonomi yang ada saat ini ke sistem ekonomi syariah. Butuh penyesuaian secara bertahap karena kita tidak bisa menjustifikasi secara langsung bahwa krisis ekonomi global yang terjadi saat ini merupakan kesalahan dari sistem ekonomi kapitalis dan harus diconvertisasi ke sistem ekonomi syariah secara utuh. Dengan adanya bank syariah, berbagai lembaga islamic multifinance, dan institusi pasar modal syariah yang kedudukannya sebagai unit usaha lembaga konvensional maupun yang telah mandiri dapat menjadi alternatif investasi bagi masyarakat yang terkena dampak krisis.
    Udah deh pidatonya, panjang lebar tapi ga jelas lagi,he…he…he…

    Saya ingin minta pendapat anda tentang kebijakan moneter pemerintah yaitu operasi pasar terbuka.Apakah open market operation yang dilakukan pemerintah berupa buyback saham BUMN akan berpengaruh terhadap obligasi syariah dan sektor riil karena menurut saya jika pemerintah melakukan buyback terhadap obligasi syariah untuk menambah peredaran uang di sektor riil sebagai tolak ukur marginal product perimbangan jumlah barang-barang produksi (M.V=P.T menurut irving Fisher), maka inlasi dapat ditekan dapat menurunkan pertumbuhan ekonomi. Bagaimana pendapat anda?
    Tolong dijawab ya!

    oh ya jangan lupa kunjungi blog saya di lazialleguy.blogspot.com and isi commentnya ya!

    Salam hangat dan sukses untuk anda dan keluarga!
    Wassalamu,alaikum wr wb

    Komentar oleh Yoga Hariawan | Maret 2, 2009 | Balas

  2. Assalamualaikum wr wb

    Saya sangat kagum dengan isi blog anda karena kita tahu bahwa tidak mungkin menerapkan bahkan merevolusi secara langsung sistem ekonomi yang ada saat ini ke sistem ekonomi syariah. Butuh penyesuaian secara bertahap karena kita tidak bisa menjustifikasi secara langsung bahwa krisis ekonomi global yang terjadi saat ini merupakan kesalahan dari sistem ekonomi kapitalis dan harus digantikan ke sistem ekonomi syariah secara utuh. Dengan adanya bank syariah, berbagai lembaga islamic multifinance, dan institusi pasar modal syariah yang kedudukannya sebagai unit usaha lembaga konvensional maupun yang telah mandiri dapat menjadi alternatif investasi bagi masyarakat yang terkena dampak krisis.
    Udah deh pidatonya, panjang lebar tapi ga jelas lagi,he…he…he…

    Saya ingin minta pendapat anda tentang kebijakan moneter pemerintah yaitu operasi pasar terbuka.Apakah open market operation yang dilakukan pemerintah berupa buyback saham BUMN akan berpengaruh terhadap obligasi syariah dan sektor riil karena menurut saya jika pemerintah melakukan buyback terhadap obligasi syariah untuk menambah peredaran uang di sektor riil sebagai tolak ukur marginal product serta perimbangan jumlah barang dan jasa yang diproduksi(M.V=P.T menurut irving Fisher),maka inlasi dapat ditekan tanpa menurunkan pertumbuhan ekonomi.Bagaimana pendapat anda?
    Tolong dijawab ya!

    oh ya jangan lupa kunjungi blog saya di lazialleguy.blogspot.com and isi commentnya ya!

    Salam hangat dan sukses untuk anda dan keluarga!
    Wassalamu,alaikum wr wb

    Komentar oleh Yoga Hariawan | Maret 2, 2009 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: